Manchester City, Pep Guardiola, dan Kutukan Yaya Toure

Ulasan  
Yaya Toure (kiri) menjabat tangan pelatih Pep Guardiola saat diganti dalam penampilan terakhirnya bersama Manchester City, di Etihad Stadium, Manchester, Inggris, 9 Mei 2018. EPA-EFE/NIGEL RODDIS
Yaya Toure (kiri) menjabat tangan pelatih Pep Guardiola saat diganti dalam penampilan terakhirnya bersama Manchester City, di Etihad Stadium, Manchester, Inggris, 9 Mei 2018. EPA-EFE/NIGEL RODDIS

Bola itu bundar. Ungkapan yang sering dilontarkan untuk menggambarkan hasil apa pun dapat terjadi di lapangan sepak bola. Itu lah yang terjadi dalam leg kedua semifinal Liga Champions Real Madrid vs Manchester City di Santiago Bernabue, Kamis (5/5/2022) dini hari WIB.

Manchester City, datang dengan keunggulan agregat 4-3, mencetak gol lebih dahulu di babak dua, ternyata di luar dugaan, harus tersingkir usai diberondong Madrid dengan dua gol balasan pada menit-menit akhir dan satu gol penalti pada babak tambahan.

Kekalahan ini terasa menyesakkan bagi City. Pasalnya, sudah beberapa kali mereka menembus putaran final Liga Champions. Hasilnya selalu kandas.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Padahal, trofi Liga Champions salah satu target piala yang sangat mereka idam-idamkan. Belum sekali pun mereka pernah meraihnya.

Tahun lalu mereka paling berpeluang besar menggenggamnya. Untuk pertama kali dalam sejarah mereka akhirnya mampu menembus final. Sayang, rezeki belum di tangan, Chelsea keluar sebagai juara usai menang 1-0.

Tahun ini, City berusaha memperbaiki kekalahan tersebut. Tampil cukup dominan, mereka menjadi salah satu yang difavoritkan sebagai jawara.

Menjadi juara grup A di penyisihan grup, pasukan pelatih Pep Guardiola melaju kencang ke semifinal usai mengalahkan Sporting Lisbon dan Atletico Madrid.

Melawan Real Madrid di leg pertama semifinal di Etihad Stadium, City sanggup mempertontonkan permainan impresif. Mereka unggul dua gol lebih dahulu sebelum hasil akhir 4-3.

Berkaca dari penampilan tersebut, City sebenarnya lebih diunggulkan dalam laga leg kedua di Bernabeu malam tadi. Apalagi mereka sempat menambah keuntungan agregat dengan menyarangkan satu gol pada menit 73'.

Namun, saat kemenangan seolah di depan mata, Real Madrid membuat kejutan lewat dua gol Rodrygo pada menit 90 dan 90+1.

Baca: Rodrygo Goes, Supersub Muda, Si 'Perusak' Laga

City tersengat. Saat melaju ke babak tambahan mereka pun diganjar penalti akibat pelanggaran terhadap Benzema di kotak terlarang.

Benzema, pemain veteran yang sarat pengalaman, tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan mencetak gol kemenangan tuan rumah sekaligus mengantar Madrid ke final.

Baca: Ini Jadwal Final Liga Champions 2021/2022: Liverpool Vs Real Madrid

Mengulang Sejarah Pahit

Kekalahan di Bernabeu seolah mengulang sejarah pahit yang pernah dialami Manchester City di tempat sama, turnamen sama, dan fase sama, enam tahun lalu.

Pada semifinal Liga Champions 2016, Manchester City juga pernah tersingkir usai dikalahkan Real Madrid dalam pertandingan leg kedua di Santiago Bernabeu.

Saat itu City terdepak usai kalah dengan skor tipis 1-0 dari Real Madrid. Gol tercipta melalui gol bunuh diri Fernando. Karena pada leg pertama skornya 0-0, Madrid dipastikan menang dan lolos ke final.

De Bruyne merupakan salah satu saksi sejarah saat itu. Ia termasuk dalam daftar pemain yang ikut serta. Kini, tak disangka, ia harus kembali mengulang pengalaman pahitnya.

Kutukan Yaya Toure?

Kegagalan City di Liga Champions dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengalaman Real Madrid sebagai tim matang dengan sarat pengalaman salah satunya.

Namun, sedang ramai dikait-kaitkan, kegagalan Pep semalam juga disandingkan dengan "kutukan" yang pernah dilontarkan agen salah satu mantan pemain City, Yaya Toure, yakni Dimitri Seluk.

Dimitri Seluk sempat mengatakan, para dukun di Afrika bakal memberikan kutukan kepada Pep Guardiola di Manchester City untuk selalu gagal menjuarai Liga Champions.

Seluk mengungkapkan itu usai Yaya Toure dilepas dengan status bebas transfer pada 2018. Padahal Toure salah satu pemain setia yang sudah membela City sejak 2010. Hal itu dianggap sebagai perlakuan buruk.

"Guardiola mengubah seluruh Afrika melawan dirinya sendiri, banyak penggemar Afrika berpaling dari Manchester City," kata Seluk saat itu.

"Saya yakin, banyak shamans (dukun) Afrika yang memberikan kutukan kepada Pep Guardiola untuk selalu gagal menjuara Liga Champions. "

"Ini untuk Pep Guardiola, kutukan dari Afrika. Kehidupan akan menunjukkan, apakah saya benar atau tidak," ujar Seluk.

Pep Guardiola terakhir kali mengangkat trofi Si Kuping Besar 11 tahun silam yakni ketika melatih Barcelona. Bersama La Blaugrana, ia sempat dua kali meraihnya pada musim 2008/2009 dan 2010/2011.

Ketika melatih Bayern Munchen, Pep gagal meraihnya. Kini, selama enam tahun di Man City, ia pun belum mampu memenangkannya. Upaya terakhir kandas ketika disingkirkan Real Madrid di Bernabeu semalam.

Sumber: berbagai sumber

Baca juga:

- Manchester City Pernah Disingkirkan Real Madrid di Leg Dua Semifinal Liga Champions 2016

- Ini Catatan Mentereng Karim Benzema di Real Madrid

- Mantan Striker Madrid: Manchester City Bakal Menang Vs Real Madrid

- Jadi Starter di Madrid Vs Man City, Phil Foden Dekati Rekor Mbappe

Berita Terkait

Image

Man City Vs Chelsea: Duel yang ke-50 Kali, Ini Catatan Head to Headnya

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mantan bek kanan di liga kampus. Masih belajar jadi versi terbaik.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image